Rabu, 20 Februari 2013

Sepasang Sendal Jepit


“Fahri.” Nama itulah yang pertama kali teringat ketika aku mengeluarkan benda berwarna putih kombinasi biru ini dari box coklatku. Sebuah sendal jepit yang ia hadiahkan untukku tiga tahun lalu. Jika boleh diralat, sebenarnya ini bukanlah hadiah, tapi lebih tepatnya merupakan lambang perpisahan yang menjadi saksi bisu pertemuan terakhir kami.
            Fahri adalah lelaki sederhana yang selalu tampil sempurna dihadapanku. Dia bukan kekasihku, dia adalah sahabat yang sudah bertahun-tahun mengisi hari-hariku. Kami bersahabat sejak duduk dibangku Sekolah Dasar. Namun, seolah sudah menjadi bagian dari rencana takdir, kami pun kembali dipersatukan di Sekolah Menengah Pertama yang sama. Hubungan kami semakin dekat, kebersamaan pun kian terjalin erat. Pernah beberapa kali Fahri membuatku berpikiran bahwa ia punya rasa padaku. Tapi pada kenyataannya, ia hanya bungkam dalam canda tawa yang tercipta, ia hanya hadir sebagai sahabat yang mampu menyeka gelisah. Aku sendiri tak bisa memahami perihal perasaanku terhadapnya. Aku hanya tau, selama ini aku terbiasa melukis jejak bersamanya, meleburkan hari-hari sepi dalam gurauan berharga, hingga menyembuhkan luka dalam genggaman tak bernama.
            Hari-hari berlalu begitu cepat dalam kebisuan hati. Jika selama ini kami menganggap takdir sebagai penolong kebersamaan kami, tidak demikian dengan apa yang terjadi setelah aku dan Fahri lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Fahri bersama keluarganya harus pindah ke Kota Surabaya. Entah apa penyebabnya, tapi yang pasti Fahri harus meneruskan pendidikan di Kota padat penduduk itu. Aku tak kuasa menahannya, karena aku bukan siapa-siapa baginya. Terlebih saat itu kami hanyalah remaja yang belum mengerti bagaimana cinta orang dewasa yang sebenarnya. Namun sebelum perpisahan itu tiba, aku dan Fahri sempat bertemu di tepi sungai yang letaknya tidak jauh dari rumahku.
            Kala itu, suasana malam sangat bersahaja. Bintang-bintang bergantian memancarkan sinarnya, angin pun seakan bergurau senda dengan daun-daun yang terlihat hijau sumringah. Aku terdiam, begitu juga dengan Fahri. Kami terseret jauh ke dalam detik-detik penuh makna yang pernah berdetak di tahun-tahun yang lalu. Adakah semua itu akan terulang di masa depan? Entahlah, masa depan adalah misteri yang sengaja kubiarkan terkunci rapat. Biar saja waktu yang menjawabnya.
            Ditengah keresahan yang menyelinap diantara kami, suara Fahri terdengar begitu lembut menyapa keheningan hati. Bahkan lebih lembut dari tatapan sang rembulan yang terkesima menyaksikan kisah kami di bumi. Fahri menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna merah muda. Aku tersenyum, kubuka kantong plastik itu dengan rasa gundah yang masih tersisa. Sepasang sendal jepit berwarna putih kombinasi biru menjadi satu-satunya aktor dalam kantong plastik itu. Fahri tersenyum ikhlas padaku. Aku tau, seikhlas dan semanis apapun senyumnya, tidak akan mampu membiaskan kesedihan yang tergurat jelas di wajahnya. Tatapannya terasa begitu hangat, Perlahan ia mulai mengatakan bahwa ia ingin menjadi satu-satunya penopang langkahku, pelindung dalam setiap jejak yang ku ukir, dan juga penuntun langkahku kemanapun aku berpijak melalui wujud sepasang sendal jepit. Sederhana memang, hanya sepasang alas kaki yang bagi sebagian orang bisa dibeli dengan mata setengah tertutup. Tapi bagiku, sendal jepit ini begitu berharga melebihi apapun yang pernah aku punya. Karena sendal jepit ini adalah pemberian dari seseorang yang sangat berarti. Seseorang yang bahkan tak pernah menjadi kekasihku. Tapi kebaikannya, kasihnya, juga ketulusannya lebih dari seorang kekasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar