“Fahri.” Nama itulah
yang pertama kali teringat ketika aku mengeluarkan benda berwarna putih kombinasi
biru ini dari box coklatku. Sebuah sendal jepit yang ia hadiahkan untukku tiga
tahun lalu. Jika boleh diralat, sebenarnya ini bukanlah hadiah, tapi lebih
tepatnya merupakan lambang perpisahan yang menjadi saksi bisu pertemuan
terakhir kami.
Fahri
adalah lelaki sederhana yang selalu tampil sempurna dihadapanku. Dia bukan
kekasihku, dia adalah sahabat yang sudah bertahun-tahun mengisi hari-hariku.
Kami bersahabat sejak duduk dibangku Sekolah Dasar. Namun, seolah sudah menjadi
bagian dari rencana takdir, kami pun kembali dipersatukan di Sekolah Menengah
Pertama yang sama. Hubungan kami semakin dekat, kebersamaan pun kian terjalin
erat. Pernah beberapa kali Fahri membuatku berpikiran bahwa ia punya rasa
padaku. Tapi pada kenyataannya, ia hanya bungkam dalam canda tawa yang
tercipta, ia hanya hadir sebagai sahabat yang mampu menyeka gelisah. Aku sendiri
tak bisa memahami perihal perasaanku terhadapnya. Aku hanya tau, selama ini aku
terbiasa melukis jejak bersamanya, meleburkan hari-hari sepi dalam gurauan
berharga, hingga menyembuhkan luka dalam genggaman tak bernama.
Hari-hari
berlalu begitu cepat dalam kebisuan hati. Jika selama ini kami menganggap
takdir sebagai penolong kebersamaan kami, tidak demikian dengan apa yang
terjadi setelah aku dan Fahri lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Fahri
bersama keluarganya harus pindah ke Kota Surabaya. Entah apa penyebabnya, tapi
yang pasti Fahri harus meneruskan pendidikan di Kota padat penduduk itu. Aku
tak kuasa menahannya, karena aku bukan siapa-siapa baginya. Terlebih saat itu
kami hanyalah remaja yang belum mengerti bagaimana cinta orang dewasa yang
sebenarnya. Namun sebelum perpisahan itu tiba, aku dan Fahri sempat bertemu di
tepi sungai yang letaknya tidak jauh dari rumahku.
Kala
itu, suasana malam sangat bersahaja. Bintang-bintang bergantian memancarkan
sinarnya, angin pun seakan bergurau senda dengan daun-daun yang terlihat hijau
sumringah. Aku terdiam, begitu juga dengan Fahri. Kami terseret jauh ke dalam
detik-detik penuh makna yang pernah berdetak di tahun-tahun yang lalu. Adakah
semua itu akan terulang di masa depan? Entahlah, masa depan adalah misteri yang
sengaja kubiarkan terkunci rapat. Biar saja waktu yang menjawabnya.
Ditengah
keresahan yang menyelinap diantara kami, suara Fahri terdengar begitu lembut menyapa
keheningan hati. Bahkan lebih lembut dari tatapan sang rembulan yang terkesima
menyaksikan kisah kami di bumi. Fahri menyodorkan sebuah kantong plastik
berwarna merah muda. Aku tersenyum, kubuka kantong plastik itu dengan rasa
gundah yang masih tersisa. Sepasang sendal jepit berwarna putih kombinasi biru
menjadi satu-satunya aktor dalam kantong plastik itu. Fahri tersenyum ikhlas
padaku. Aku tau, seikhlas dan semanis apapun senyumnya, tidak akan mampu membiaskan
kesedihan yang tergurat jelas di wajahnya. Tatapannya terasa begitu hangat,
Perlahan ia mulai mengatakan bahwa ia ingin menjadi satu-satunya penopang
langkahku, pelindung dalam setiap jejak yang ku ukir, dan juga penuntun langkahku
kemanapun aku berpijak melalui wujud sepasang sendal jepit. Sederhana memang,
hanya sepasang alas kaki yang bagi sebagian orang bisa dibeli dengan mata
setengah tertutup. Tapi bagiku, sendal jepit ini begitu berharga melebihi
apapun yang pernah aku punya. Karena sendal jepit ini adalah pemberian dari
seseorang yang sangat berarti. Seseorang yang bahkan tak pernah menjadi
kekasihku. Tapi kebaikannya, kasihnya, juga ketulusannya lebih dari seorang
kekasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar